Jumat, 06 Februari 2015

surat dari zevanya

“huh, kenapa harus anak ini lagi yang muncul?” kulihat, ada lagi nama zevanya di halaman depan Koran. Menyebalkan. Siapa sih, zevanya itu?

Pertama kali aku melihat zevanya di TV, ia sedang menerima penghargaan sebagai penulis berbakat. Banyak yang membarikan pujian pada karya-karyanya. Sepuluh buku! Bahkan, seorang penulis terkenal memberinya ucapan semangat. Aku jadi ingin tahu keistimewaan zevanya.

Akhirnya, aku punya kesempatan membaca bukunya, ketika aku ke rumah sepupuku. Kebetulan, ia salah satu pengagum zevanya. Aku ambil salah satu bukunya. Judulnya, ‘friends.’ Aku mulai membaca dan membaca. Tak sampai setengah jam, buku itu habis kubaca.

Aku mendengus keras-keras. Apanya yang ‘masterpiece?’ apanya yang penulis berbakat? Apanya yang bagus? Jawabannya adalah tidak, tidak ada. Tidak istimewa. Tidak bagus sama sekali. Ia bukan pegarang cilik berbakat. Karyanya mirip sekali degan buku-buku karya enid blyton, Jacqueline Wilson, eva Ibbotson, dan pengarang terkenal lainnya.

Itu namanya menyontek. Jujur, aku jadi sebal melihat diri dan namanya. Kebetulan, aku juga suka menulis. Menurutku, karyaku jauh lebih bagus. Paling tidak, aku punya ide sendiri. Mengapa harus dia yang mendapat kesempatan?

Lalu, aku puny aide yang sangat jahat. Aku mengambil secarik kertas, lalu menuliskan bahwa dia tidak layak disebut sebagai penulis berbakat. Begitu selesai menulis, aku merasa puas dengan diriku sendiri.

Surat itu tak kuberi tanda pengenal. Aku memasukannya ke amplop, memberinya perangko, lalu berangkat menuju bis surat di komplek sebelah. Di depan bis surat, kukeluarkan amplop berisi surat kaleng jahat. Aku tersenyum membayangkan reaksinya.

Hei, tetapi, apa salah zevanya sehingga harus mengirim surat ini? Sebetulnya, dia tak punya salah apapun kepadaku. Dia tak membuatku sedih. lalu, mengapa aku harus membuatnya sedih?

Mungkin, sebetulnya aku cuma cemburu dan marah karena dia bisa mendapat julukan penulis berbakat. Tiba-tiba aku merasa amat bersalah.

Setelah beberapa saat termenung di depang bis surat, aku tersenyum simpul. Kumasukan suratku ke dalam jaket merah kesayanganku. Aku pulang dengan kemenangan karena hari ini tidak jadi berbuat jahat pada orang tak bersalah.

Din-din! Bunyi klakson motor di depan rumahku.
“mbak sha, coba lihat, di depan ada siapa!” teriak ibu.
Aku melompat dari tempat tidur. Kubuka pintu depan. Pak pos mengayunkan surat. “ada surat untuk pasha audityasari.”
“makasih pak!”
Aku bergegas masuk kamar dengan amplop kuning kugenggam. Kugunting tepi amplop. Lalu mulai membaca baris demi baris.

pasha audityasari yang baik.
Halo, salam kenal. Terimakasih untuk surat yang kau kirim.
Menyenangkan, lo, punya teman surat menyurat. Oh, ya, mengenai buku-buku yang kusuka, seperti yang ingin kau tahu, adalah buku-buku enid blyton, Jacqueline Wilson, eva Ibbotson, roald dahl, dan banyak lagi. Menurutku, merekalah yan mempengaruhi caraku menulis. Tetapi, aku tidak pernah menyontek karya mereka lo. Hanya saja, ideku muncul saat selesai membaca karya mereka.

Pernah ada yan protes kepadaku. Katanya, novel buatanku enggak asyik, ideku tidak segar,seperti karya jiplakan enid blyton. Aku sedih sekali. Tetapi, ibuku bilang, “tak usah pedulikan kata mereka. Yang penting, kamu mau berusaha untuk berkarya. Berkarya dan menerbitkan buku diperlukan keberanian. Kamu cukup berhasil sebagai pengarang, sebab kamu mau menulis.”

Aku jadi agak lega. Nanti, karanganku pasti akan berkembang sendiri.
Nah! Sekian dulu. Terimakasih atas dukungannya. Terus berkirim surat ya!
                                                                       
Salam manis, 
zevanya.

“cieee, serius banget! Suratt dari siapa?”
Tiba-tiba, kak radit muncul dan menyambar amplop di meja. “zevanya! Hayoooo, jangan-jangan, kamu sudah jadi penggemar beratnya ya?” goda kak radit.
Iiih, apaan sih? Sampai sekarang, aku gak suka karya zevanya. Hanya saja, aku tak perlu benci sama orangnya.”

Tak sampai satu jam, berita tentang suratku pada zevanya jadi pembicaraan keluargaku. Mereka menggodaku. Kata mereka, aku sudah menjadi penggemar berat zevanya.


Akan tetapi, aku tahu satu hal. Satu hal yang bagus, kali ini. Daripada benci kepada seseorang karena alasan sepele, lebih baik mengajaknya berteman.  Tanpa musuh, dunia indah kan? 

Tebak-tebakan


1.    Dia itu kecil mungil, ekornya sedikit panjang. Suaranya miaw.. miaw.. apakah itu? J
2.    Dia itu besar sebesar raksasa. Telinganya besar. Hidungnya panjang. Apakah itu?
3.    Dia itu kecil, kecilll banget. Dia suka makanan manis. Apakah itu?
4.    Dia itu kecil, hidupnya di air. Apakah itu?
5.    Dia itu tinggi, makanannya daun. Tulangnya ada tujuh. Lehernya panjanggggg banget. Apakah itu?
6.    dia itu bentuknya lingkaran, warnanya banyak. Ada warna putih, hitam, merah, putih. Dia ditendang. Apakah itu?
7.    Dia itu bagus, mainannya laki-laki. Dia punya roda. Apakah itu?
8.    Dia itu tipis. Buat dipake orang. Dia depannya huruf ‘B.’ apakah itu?
9.    Dia itu besar. Buat nyimpen baju. Apakah itu?


       

Terus semangat!


Masa depan yang ceria
Pasti kan ku gapai, sesuai mimpiku
Dengan keberanian ku didalam poket besar ku
Jalan yang, selalu, aku tempuh
Baju putihku, terhembus angin, bisa terbang ke mana saja

Awan pun terkadang, ingin menangis
Tapi matahari terus tersenyum
Kawan, pun bisa jadi lawan
Jadi harus terus semangat

Aidoru (aidoru) katsudo (katsudo)
Go go lets go (go go lets go!)
Ku kan terus, berlari
Menggapai impianku
Bersama denganmu

Semangat selalu

Surat misterius

Hadiah apa, ya?
Aku memandang kalender. 12 oktober. Ulang tahunku. Seluruh keluargaku, mama, papa, adikku sari dan aziz, bibi, paman, kakek dan nenek semuanya pergi.
Mungkin, mereka membeli hadiah. Hadiah apa, ya? Pikirku.
Aku menelepon papa.
aku: Pa, papa mau beli hadiah buatku, ya?
Papa: Mmmm… ada deh!
Aku: Ihh… papa! Hadiah apa?
Papa: Gak tahu.
Aku: Missy mau lihat hadiahnya…
Papa: Kapan-kapan aja, deh, lihatnya.
Aku: Ahh.. Papa!
Papa: Hahaha!
Aku menutup telepon. Aku pun memutuskan untuk ke rumah amel, sahabatku. Aku berjalan menuju garasi da mengambil sepeda biruku.
Saat aku sudah berjalan menjauhi rumah, diam-diam, papa, mama, sari, Aziz, bibi, paman, kakek dan nenek masuk ke kekamarku.
Papa dan mama memasukan sebuah pohon cemara plastik yang banyak gantungan kado-kado, dan ucapan “happy birthday.”
Kado-kado dari keluargaku di taruh dibawahnya.
Lalu, keluargaku keluar dari kamarku dan bersembunyi.

Aku pulang beberapa saat. Aku sangat terkejut melihat banyak kado di kamarku.
Hadiah apa, ya?
Aku membuka kado dari mama. ada kartu ucapannya.

Selamat ulang tahun, missy! Selalu jadi anak sholehah, ya? Semoga panjang umur. Missy, ada kabar gembira untukmu, tadi, sebelum membeli kado untukmu, mama ke dokter. Tahu apa yang dikatakan dokter? Mama hamil! Kado dari mama ini dan adikkmu. Semoga kamu senang ya?

Salam sehangat coklat panas,
Mama, resty lhavina. ::: J :::

Setelah membaca kartu ucapan dari mama, aku membuka kadonya. Waw! Ada perlengkapan sekolah super mahal! Ada tas, pensil, penghapus, pengraut, tempat pensil, buku-buku, DLL. Bahkan, ada sepatu juga, lho!
Sekarang, aku membuka kado dari papa. Ada kartu ucapannya juga. Tapi, ini dengan tulisan khas papa yang sangat bagus.

Selamat ulang tahun, missy! Papa tahu, kamu suka tulisan papa, kan? Kado dari papa, pasti kamu suka. Pohon cemara yang ada dikamarmu papa yang beli, lho! Harganya tujuh juta. Mahal,kan? Tapi, demi kamu, papa mau membelinya. Sudah, ya? Papa enggak mau terlalu bicara panjang lebar,

Salam semanis gula,
Papa, Muhammad Anthony. <><><> J <><><>

Aku membuka kado dari papa. Tak sabar. Ya, ampun! Ada bola kristal salju yang sudah lama kuimpikan! Terimakasih, papa!
Aku juga membuka kado dari bibi, paman, kakek dan nenek. Ada yang memberiku buku diary baru, aksesoris, DLL. 
Wow! ini ulang tahun yang paling istimewa dalam hidupku.
                                              

Adventure mermaid


Bermain bersama teman-teman

Lila sang putri duyung duduk di pantai sambil melihat teman-temannya bermain voli. Hebat, lho, putri duyung bisa main voli.
Kayaknya asyik. Aku jadi ingin ikutan main voli, kata lila dalam hati.
“Dor!” cheril mengagetkan lila. “Bikin kaget saja!” seru lila marah. “Habis, kamu melamun sih!” ujar cheril. “Enggak! Aku lagi tungg kamu. Lama banget sih!” kata lila. “sudah waktunya makan siang nih!” sambungnya. “oh, iya! Ayo kita ke kantin!” balas cheril.
“kamu mau pesan apa?” tanya cheril. “Belum tahu. Lihat nanti saja.”
“Enggak salah kita pilih nasi goreng seafood ini,” ujar lila yang suka makan. “Iya, lezat sekali!” seru cheril.

**********
Di panti asuhan lila…
“Sudah pagi. Padahal aku masih ngantuk,” keluh lila.
TOK! TOK! TOK!
Terdengar ketukan pintu. Seseorang membuka pintu kamar lila.
“Halo, lila! Maaf aku ganggu pagi-pagi. Aku mau minta tolong. Aku lagi ada masalah,” ujar orang itu. “Halo, flounder. Enggak apa-apa, masuklah! Apa masalahmu?” tanya lila kepada orang itu yang ternyata bernama flounder.
“Aku punya sahabat bernama karl. Tiba-tiba dia menjauhiku,” jelas flunder. “Oh, begitu. Aku akan pecahkan masalahmu besok,” kata lila.
Lalu mereka berjalan bersama menuju sekolah.
Sepulang sekolah, mereka mengobrol sampai malam hari.
“Baiklah, aku pulang, lila. Sampai ketemu besok,” pamit flounder. “Terimakasih telah menemaniku, ya!” ujar lila. Flunder mengangguk.
Lila yang tukang tidur pun tidur sampai pagi hari.

**********
Keesokan harinya……
TOK! TOK! TOK!
Kembali terdengar ketukan pintu.
“Tunggu sebentar, ya,” kata lila. Flounder memasuki kamar lila. Flounder tersenyum. Lila tahu apa artinya.
“Yuk, kita pergi sekarang!” ajak lila.
“Itu rumah karl!” tunjuk flounder. “Oke, ayo kita ke sana!” lila langsung berenang cepat.
Mereka berdua mengintip ke halamssan rumah karl. Terlihat seseorang sedang memainkan yoyo.
“Wah, jago sekali, main yoyonya,” puji lila. “Itu karl!” bisik flunder.
Lila memberanikan diri masuk ke halaman rumah karl.
“Hai, boleh kenalan? Namaku lila,” “Hai, lila. Namaku karl,” balas karl. “Aku dengar, kamu sedang bertengkar dengan sahabatmu, ya?” tanya lila. “Iya. Habisnya, flounder gak mau aku ajak main yoyo,” jelas karl. “Kau dengar itu, flounder? Ayo, kalian bersalaman,” ujar lila tersenyum. Akhirnya, masalah pun selesai.

*********

Sore harinya…
TOK! TOK! TOK!
Seseorang mengetuk pintu kamar lila. “Ada apa, lagi, sih?” keluh lila. Lila membukakan pintu. Ternyata rista yang datang.
“Hai, lila! Ini, ada undangan pesta kembang api! Datang ya!” ujar rista sambil beranjak pergi. “Oke!” balas lila.
 Lila membaca undangan itu.
Halo, lila!
Terimakasih, ya,
Sudah
Menolongku
Kemarin.
Surat ini kubuat khusus
Buatmu, lho!
Sebagai ucapan terimakasih dariku.
Kamu datang, ya!

Salam sehangat coklat panas,
Flounder brown boy

Lila tersenyum. Aku pasti datang!  Seru lila dalam hati.

**********

malam harinya….
Lila berjalan menuju kamar cheril. Cheril juga tinggal dip anti asuhan beautiful mermaid.
Saat lila mau mengetuk, tiba-tiba pintu terbuka. “Ah! Cheril! Kamu selalu bikin kaget aja!” seru lila. “Eh! Maaf, maaf. Aku gak tau kamu disini. ayo, kita berangkat ke tepi pantai!” ajak cheril. Kemarahan lila pun reda. “Ayo!”
Sebentar saja, mereka telah sampai di tepi pantai.
Tiba-tiba……………………..
DUAR! Ada salah satu kembang api meledak. Wah! Bagus sekali. “Ini kali pertama aku lihat kembang api!” teriak cheril karena suasana disana sangat ramai. Saat perjalanan pulang, lila menemukan sebuah kalung berbentuk kerang berwarna pink.
“Wah, indah sekali!” ujar lila di belakang cheril. Sebuah ide jail melintas di otak lila. “Kalung ini buatku saja! Hehehe!”
Teman-teman, jangan ditiru, ya!
“Lila! Cepetan!” panggil cheril. “Eh! Iya, iya!” balas lila menyusul cheril.
Tiba-tiba…

Tinggal bersama lola

“Hah! Gempa bumi! Gempa bumi!” seru lila. Mereka ingin berlari. Namun, mana bisa, mereka putri duyung, bukan manusia yang memiliki kaki.
Namun, saat mereka merangkak, terjadi sesuatu yang tidak pernah diinginkan. TSUNAMI! ADA TSUNAMI!
Lila panik. Namun, ia berpikir untuk melarikan diri. Saat memikirkan apa yang akan ia lakukan……
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa! Tolooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo!” teriak lila sangat kencang. LILA TERBAWA ARUS!
Pada saatnya, lila tak sadarkan diri! LILA!

**********

Lila bangun dari pingsannya. Samar-samar, ia melihat ruangan mewah. Bahkan, ia sendiri sedang tiduran di atas tempat tidur emas. “Ah? Dimana aku?” tanya lila sambil memegangi kepalanya. Pusing sekali. “Oh, kamu sudah sadar? Diminum duli tehnya, biar kepalamu hangat,” ujar seseorang sambil menaruh secangkir teh di meja dekat tempat lila tiduran. “Lho! Kok wajah kita mirip?” tanya lila. “iya, iya. Eh, kamu sudah sehat?” “kemarin kamu pingsan. Aku lola,” jelas seseorang itu yang bernama lola. “Sudah. Kamu yang merawatku, ya?” “Terima kasih. Aku Lila,” balas lila tersenyum.
“Lola, kalung…….. kalung putri Lola!” seru Lila kaget. “Oh, kalungku! Maukah kamu memberikannya kepadaku?” tanya lola penuh harap. “Ini, ambillah!” ujar lila sambil menyerahkan kalung kerang berwarna pink.
“Selamat pagi!” seru dua orang. “Lola, kita ke fun sea park, yuk!” ajak seseorang salah satu dari mereka. “Katanya akan diadakan ‘five mermaid festival’.” Ujar orang yang kedua. “Oh, iya. Ini sahabatku,” jelas lola. “Hai, aku quincy,” seru orang yang pertama. Rambutnya terkibar terkena kipas angin.