“huh, kenapa harus anak ini lagi
yang muncul?” kulihat, ada lagi nama zevanya di halaman depan Koran.
Menyebalkan. Siapa sih, zevanya itu?
Pertama kali aku melihat zevanya di
TV, ia sedang menerima penghargaan sebagai penulis berbakat. Banyak yang
membarikan pujian pada karya-karyanya. Sepuluh buku! Bahkan, seorang penulis
terkenal memberinya ucapan semangat. Aku jadi ingin tahu keistimewaan zevanya.
Akhirnya, aku punya kesempatan
membaca bukunya, ketika aku ke rumah sepupuku. Kebetulan, ia salah satu
pengagum zevanya. Aku ambil salah satu bukunya. Judulnya, ‘friends.’ Aku mulai
membaca dan membaca. Tak sampai setengah jam, buku itu habis kubaca.
Aku mendengus keras-keras. Apanya
yang ‘masterpiece?’ apanya yang penulis berbakat? Apanya yang bagus? Jawabannya
adalah tidak, tidak ada. Tidak istimewa. Tidak bagus sama sekali. Ia bukan
pegarang cilik berbakat. Karyanya mirip sekali degan buku-buku karya enid
blyton, Jacqueline Wilson, eva Ibbotson, dan pengarang terkenal lainnya.
Itu namanya menyontek. Jujur, aku
jadi sebal melihat diri dan namanya. Kebetulan, aku juga suka menulis.
Menurutku, karyaku jauh lebih bagus. Paling tidak, aku punya ide sendiri.
Mengapa harus dia yang mendapat kesempatan?
Lalu, aku puny aide yang sangat
jahat. Aku mengambil secarik kertas, lalu menuliskan bahwa dia tidak layak
disebut sebagai penulis berbakat. Begitu selesai menulis, aku merasa puas
dengan diriku sendiri.
Surat itu tak kuberi tanda
pengenal. Aku memasukannya ke amplop, memberinya perangko, lalu berangkat
menuju bis surat di komplek sebelah. Di depan bis surat, kukeluarkan amplop
berisi surat kaleng jahat. Aku tersenyum membayangkan reaksinya.
Hei, tetapi, apa salah zevanya
sehingga harus mengirim surat ini? Sebetulnya, dia tak punya salah apapun
kepadaku. Dia tak membuatku sedih. lalu, mengapa aku harus membuatnya sedih?
Mungkin, sebetulnya aku cuma
cemburu dan marah karena dia bisa mendapat julukan penulis berbakat. Tiba-tiba
aku merasa amat bersalah.
Setelah beberapa saat termenung di
depang bis surat, aku tersenyum simpul. Kumasukan suratku ke dalam jaket merah
kesayanganku. Aku pulang dengan kemenangan karena hari ini tidak jadi berbuat
jahat pada orang tak bersalah.
Din-din! Bunyi klakson motor di
depan rumahku.
“mbak sha, coba lihat, di depan ada
siapa!” teriak ibu.
Aku melompat dari tempat tidur.
Kubuka pintu depan. Pak pos mengayunkan surat. “ada surat untuk pasha
audityasari.”
“makasih pak!”
Aku bergegas masuk kamar dengan
amplop kuning kugenggam. Kugunting tepi amplop. Lalu mulai membaca baris demi
baris.
pasha audityasari yang baik.
Halo, salam kenal. Terimakasih
untuk surat yang kau kirim.
Menyenangkan, lo, punya teman surat
menyurat. Oh, ya, mengenai buku-buku yang kusuka, seperti yang ingin kau tahu,
adalah buku-buku enid blyton, Jacqueline Wilson, eva Ibbotson, roald dahl, dan
banyak lagi. Menurutku, merekalah yan mempengaruhi caraku menulis. Tetapi, aku
tidak pernah menyontek karya mereka lo. Hanya saja, ideku muncul saat selesai
membaca karya mereka.
Pernah ada yan protes kepadaku.
Katanya, novel buatanku enggak asyik, ideku tidak segar,seperti karya jiplakan
enid blyton. Aku sedih sekali. Tetapi, ibuku bilang, “tak usah pedulikan kata
mereka. Yang penting, kamu mau berusaha untuk berkarya. Berkarya dan
menerbitkan buku diperlukan keberanian. Kamu cukup berhasil sebagai pengarang,
sebab kamu mau menulis.”
Aku jadi agak lega. Nanti,
karanganku pasti akan berkembang sendiri.
Nah! Sekian dulu. Terimakasih atas
dukungannya. Terus berkirim surat ya!
Salam manis,
zevanya.
“cieee, serius banget! Suratt dari
siapa?”
Tiba-tiba, kak radit muncul dan
menyambar amplop di meja. “zevanya! Hayoooo, jangan-jangan, kamu sudah jadi
penggemar beratnya ya?” goda kak radit.
Iiih, apaan sih? Sampai sekarang,
aku gak suka karya zevanya. Hanya saja, aku tak perlu benci sama orangnya.”
Tak sampai satu jam, berita tentang
suratku pada zevanya jadi pembicaraan keluargaku. Mereka menggodaku. Kata
mereka, aku sudah menjadi penggemar berat zevanya.
Akan tetapi, aku tahu satu hal.
Satu hal yang bagus, kali ini. Daripada benci kepada seseorang karena alasan
sepele, lebih baik mengajaknya berteman.
Tanpa musuh, dunia indah kan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar