Putera Mahkota Han
-oleh Raya-
-oleh Raya-
Seperti biasa, sore itu putera Mahkota Han, putera tunggal dari
Kaisar Wang, bermain ke luar gerbang istana. Ia mengenakan pakaian rakyat
jelata agar tidak dikenali orang. Putera Mahkota Han ingin mengetahui kehidupan
rakyat kecil. Ia merasa itu akan berguna jika ia kelak menjadi kaisar.
Setiba di alun-alun koraraja, Putera Mahkota Han tertarik pada
kerumunan orang.
Mereka ternyata mengerumuni seorang kakek tua yang berpakaian
sederhana.
“Ada apa ini?” tanya Putera Mahkota Han kepada pemuda
disampingnya.
“Kakek itu orang yang bijak. Ia mengajarkan kebaikan kepada
siapa pun yang mendengarnya.” Jawab pemuda itu.
Putera Mahkota Han sangat tertarik untuk mendengarkan kakek tua.
Ia ingin mendengarkan cerita bijaknya, Putera lalu ia duduk bersama
orang-orang.
Kakek tua itu memulai ceritanya.
“Dahulu kala ada seorang pemuda, putera dari saudagar kaya.
Suatu hari, ia pergi ke kota lain untuk menjenguk pamannya yang sakit keras. Ia
menunggang kuda ditemani pelayan yang setia. Pelayan itu sudah mengabdi sejak
pemuda kaya itu masih kecil.
Di tengah perjalanan, mereka dihadang dua orang pria yang sangat
gagah dan besar”
“Kita serahkan saja uang yang kita bawa”, bisik saudagar kaya itu kepada pelayannya.
“Kita serahkan saja uang yang kita bawa”, bisik saudagar kaya itu kepada pelayannya.
Kakek tua itu berhenti cerita bersejenak, membetulkan letak ikat
kepala yang menyerupai sorban.
“Saya ingin bertanya, bijakkah apa yang dilakukan saudagar kaya
itu?” Kakek tua mengedarkan pandangan ke seluruh orang-orang yang
mengerumuninya.
“Tentu saja!”, seseorang yang berdiri di belakang menyahut.
“Dengan menyerahkan uang itu, mereka tak akan diapa-apakan.”
Untuk mengetahui kejadian selanjutnya, si kakek lalu meneruskan ceritanya.
“Dengan menyerahkan uang itu, mereka tak akan diapa-apakan.”
Untuk mengetahui kejadian selanjutnya, si kakek lalu meneruskan ceritanya.
Mendengar bisikan majikannya, pelayan setia itu menggeleng dan
berkata. “Tuan muda, sebaiknya kita dengar dulu. Apa yang mereka inginkan dari kita”
Ternyata tindakan sang pelayan memang bijaksana. Dua pria itu
tak mau merampas uang. Mereka hanya menginginkan kuda-kuda yang dinaiki.
“Kalau begitu, mudah saja. Serahkan kuda-kuda mereka. Mereka
bisa membeli kuda di perjalanan nanti.” Komentar seorang bapak.
“Tidak bisa begitu!” sergah seorang ibu yang menggendong anak.
“kalau mereka melewati hutan belantara, kuda sangatlah berguna, di mana mereka
akan membeli kuda?”.
Putera Mahkota Han semakin penasaran dengan cerita sang kakek
tua. Kakek tua pun melanjutkan ceritanya.
Pelayan membungkuk hormat kepada dua orang yang meminta kudanya.
“Maaf tuan, kami sedang dalam perjalanan menuju kota lain. Kalau tuan menginginkan kuda dari kami, silahkan ambil salah satu dari kuda ini”, kata sang pelayan ramah.
“Maaf tuan, kami sedang dalam perjalanan menuju kota lain. Kalau tuan menginginkan kuda dari kami, silahkan ambil salah satu dari kuda ini”, kata sang pelayan ramah.
Dua pria itu memandangi kuda-kuda yang dipakai saudagar kaya dan
sang pelayan. Lalu mereka menghembuskan napas.
“Baiklah, kami memilih kuda yang kau pakai”, kata salah satu dari pria itu dan menunjuk kuda saudagar kaya.
“Baiklah, kami memilih kuda yang kau pakai”, kata salah satu dari pria itu dan menunjuk kuda saudagar kaya.
“Punyaku?” tanya sang saudagar kaya.
“Ya”, jawab dua pria itu hampir bersamaan.
“Baiklah, tapi biarkan kami melanjutkan perjalanan”, kata sang
saudagar kaya.
“Menurut kalian, apa yang bisa dipelajari dari cerita tadi?”
tanya sang kakek tua. “Ya!, berpikir sebelum bertindak!” seru sang kakek tua.
Putera Mahkota Han tersenyum lalu berjalan pulang menuju istana.
Sepanjang jalan, ia memikirkan perkataan kakek itu untuk selalu berpikir
sebelum bertindak. Pelajaran kali ini sangat berguna saat ini atau nanti kelak
saat ia menjadi kaisar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar