ayahku dalam mimpi
"Ricca?" "Ricca!" teriak lyra. "Euh, uh, ada apa?" tanyaku kaget. "kenapa melamun?" tanya balik lyra."Enggak ada apa-apa, kok!" "bener?" "huh! iya, deh," aku menyerah. "aku sedih, ayah enggak ada. padahal, dulu, saat ayah masih ada, aku sering belajar sama ayah." jelasku. "kamu suka belajar?" "cara ayah megajariku beda dengan yang lain. kalau sama ayah sambil bermain. selain itu, ayah suka mengajakku membuat karya dari barang bekas. ayah juga baik. karena itu, aku sayang sama ayah," lanjutku.
aku berbicara dengan suara yang sangat pelan. aku memang anak yang terkenal paling pendiam di kelas. lyra sedikit mendengar aku bercerita. "ihh... cuma karena itu kangen. bosan, ah! dengerin dia!" lyra pun bosan, akhirnya, lyra bergabung dengan teman-temannya.
hari sudah malam, aku tak bisa tidur. aku memikirkan ayah. tiba-tiba, mucul ide melintas di otakkku. aku mengambil secarik kertas dari buku tulisku, lalu menulis sesuatu.
desar Moon...
aku sangat sedih. aku ingin ketemu ayah. walau hanya mimpi, atau sedikit bayangan ayah, aku sudah sangat senang. aku tahu, kamu tidak bisa membaca, tapi semoga surat ini sampai ke pelukan ayah di surga...
aku melemparkan surat itu dari jendela kamar. aku duduk di kasurku, lalu merebahkan dari. untuk tidur.
kukuruyuk! terdengar suara ayam sebelah. aku bangun. aku tak sadar, sudah pagi hari. rasanya, baru saja aku memejamkan mata. hari ini hari minggu. aku libur sekolah. aku beranjak dari kasur, lalu menuju kamar mandi. aku berwudhu dan sholat subuh. "Ricca..." panggil teman-temanku tepat saat aku melipat mukena. "ya.." balasku. aku turun ke lantai bawah, kamarku memang di lantai dua. aku berlari ke ruang makan, lalu menyambar tempat makanku yang berwarna biru. "bu.. aku main dulu, ya.." "iya!" aku memakai baju berwarna kuning bergaris garis Pink dan hijau, dan memakai celana biru tua pendek. "cepat, ric.. aku ingin makan!" teriak rido. aku memang anak tomboi. biasanya, aku membawa bekal untuk di bagikan teman-temanku. teman-temanku semuanya laki-laki, kecuali fay, dia juga anak yang tomboi.
"Ricca, kamu jangan pergi dulu, ayo, kita buat gantungan kamar, bahan-bahannya sudah siap," panggil seseorang. aku merasa mengenali suara itu. aku memikirkannya.... "Ayah!" teriakku. "teman-teman, kayaknya, sekarang aku enggak bisa main, deh, bye bye!"
aku berlari ke dalam rumah. mencari-cari ayah. ternyata, ayah ada di kamarku. aku memeluk ayah sangat erat. "ayah, kok, bisa disini?" tanyaku. "ayah membaca suratmu itu. kamu bilang walau hanya mimpi, dan sedikit bayangan ayah kamu sudah sangat senang. tapi, ayah bukan bayangan," jelas ayah. aku tersenyum senang.
"Ayah!" teriakku. aku terbangun dari tidurku. aku sadar, aku hanya bermimpi. aku tersenyum. aku tahu, aku tak perlu sedih, ayah tetap menyayangiku di surga, dan tidak akan pernah melupakanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar