“Hii.. kenapa jadi
kebayang-bayang, sih!” gerutu Rumi sambil memasuki kamar mandi. “aaaaa!” teriak
Rumi histeris. Yang dibayangkannya menjadi kenyataan. Sebuah foto Rumi dan anak
perempuan tergantung di kamar mandi.
Ceritanya dua minggu yang lalu, Rumi
dan sahabatnya, Sinta berlatih menyanyi. Mereka akan mengikuti lomba menyanyi
di sekolah. Saat latihan, Rumi dan Sinta sempat berfoto bersama memakai kostum
yang akan dipakai lomba menyanyi.
Hari yang ditunggupun tiba. Rumi
sudah siap di belakang panggung lomba siap dengan kostumnya. Rumi sudah menunggu
Sinta selama satu jam. Beberapa menit lagi giliran mereka dipanggil. Tapi
tiba-tiba, Rumi ditelepon mama.
Mama: Rumi, Kamu harus segera ke
rumah sakit Medika! Mama sama kak Rama sudah ada disini!
Rumi: Emang kenapa, Ma? Siapa
yang sakit?
Mama: Sinta! Sinta yang sakit!
Rumi: Sinta sakit apa? Emangnya
penyakitnya parah sampai masuk rumah sakit?
Mama: Sinta kena penyakit kanker
darah stadium dua B!
Rumi: iya, iya. Aku kesana, deh.
Sambil menggerutu, Rumi berjalan
mencari taksi untuk ke rumah sakit Medika.
Selama berada di taksi, Rumi sibuk berpikir.
Kenapa,
sih? Mama malah mengkhawatirkan Sinta? Emang, anak mama itu siapa? Rumi atau Sinta?
Emangnya, mama itu mamanya Sinta? Gara-gara Sinta, aku jadi enggak bisa ikut
lomba menyanyi. Aku udah kerja keras latihan. Tapi, latihanku malah jadi
sia-sia!
Setelah sampai di rumah sakit Medika,
Rumi mencari mama. Akhirnya, Rumi bisa menemukan mama dan kak Rama di depan
kamar 2-B.
“Ayo, kamu mau melihat Sinta,
enggak?” tanya mama.
“Mau, deh,” ujar Rumi. Rumi masuk ke kamar.
Terlihat, Sinta berbaring di atas tempat tidur yang berwarna hijau.
“Maaf, ya, Rumi. Gara-gara aku,
kamu malah jadi gak bisa ikut lomba menyanyi,” sesal Sinta.
“Iya. Emang gara-gara kamu, aku
jadi gak bisa ikut lomba. Latihanku jadi sia-sia. Tau, enggak, sih!” seru Rumi.
“Eh, enggak boleh begitu, sayang.
Kasihan Sinta,” tegur mama. “Biarin!” sekilas, Rumi melihat Sinta menangis.
Lusa harinya, Rumi mendapat kabar,
kalau Sinta dikabarkan meninggal dunia. Semenjak saat itu, Rumi merasa
bersalah. Foto Rumi dan Sinta yang difoto, sudah dibingkai dengan cantik. Lalu, foto itu terus mengikuti Rumi
dimanapun. Bahkan, di kamar mandi sekolahnya.
*******
Rumi merasa merinding.
Jangan-jangan, Sinta menghantuinya. Rumi keluar kamar mandi sambil menangis.
“Lho, kenapa menangis, Rumi?”
tanya kak Rama yang libur sekolah sebulan. Rumi tak menjawab. Ia terus menangis
sambil berjalan menuju kamarnya.
Rumi menutup pintu dan dan menguncinya.
Ia merasa bersalah. Sangaaaaat merasa bersalah. Rumi terkejut. Foto itu ada di
kamarnya. Tercium bau lavender yang sangat khas. Sinta suka memakai parfum
beraroma lavender. Rumi tak tahan lagi. Ia menjerit sekuatnya.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!”
Kak Rama tergopoh-gopoh datang ke
kamar Rumi. Namun, pintu dikunci. Kak Rama bingung. Ia mengintip melalui jendela.
Terlihat, Rumi tak sadarkan diri. Tiba-tiba, dari kepala kak Rama muncul sebuah
ide. Kak Rama mengambil galah yang biasanya untuk memetik mangga, lalu,
berusaha mengambil kunci di meja dekat jendela. Setelah mendapat kunci itu, kak
Rama masuk ke dalam dan membuka pintu. Kak Rama membawa Rumi ke rumah sakit
terdekat.
*******
Kak Rama duduk di kursi depan
kamar Rumi di periksa. Jantung kak Rama berdebar-debar. Tiba-tiba, terbesit
rasa bersalah di hatinya. Lima menit berlalu, dokter yang memeriksa Rumi
keluar.
“Bagaimana keadaan adik saya, Dok?”
tanya kak Rama langsung berdiri.
“Pasien Rumi mengalami syok
karena terkejut. Saya tak tahu apa yang dikejutkannya. Tapi, saya mohon, Rumi
jangan mengalami apa yang membuatnya terkejut,” jelas pak dokter.
Kak Rama mengangguk. “Baik, Dok.”
Kak Rama mengangguk. “Baik, Dok.”
Kak Rama mengantar Rumi ke taksi
setelah mendapat izin pulang dengan pak dokter. Rumi disuruh kak Rama istirahat.
*******
Keesokan harinya, semua misteri
terbongkar. Ternyata, kak Rama yang menaruh foto itu dimana-mana.
“Aku melihat, Rumi kesal saat
keluar dari kamar tempat Sinta dirawat. Aku ingat, foto Rumi dan Sinta yang
difoto hari sebelum lomba. Beruntung, aku libur sebulan. Sepanjang hari, aku
mengikuti Rumi sampai ke sekolahnya dan menggantungkan dimana tempat yang akan
dia tuju. Untuk menggantungkan di kelasnya, aku minta teman-teman Rumi yang mau
membantuku. Aku ingin, Rumi menyadari kesalahannya. Saat di kamarnya, aku
menyemprot parfum lavender yang mereknya sama seperti yang dipakai Sinta, aku
menyemprot ke seluruh kamar Rumi. Sejak Rumi syok, aku tidak akan melakukan ini
lagi,” jelas kak Rama panjang lebar.
Setelah saat itu, Rumi berjanji,
akan mengubah sikapnya. Terdengar, suara tawa gembira Sinta….Lo, Sinta?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar