Sabtu, 10 Januari 2015

Foto Misterius

“Hii.. kenapa jadi kebayang-bayang, sih!” gerutu Rumi sambil memasuki kamar mandi. “aaaaa!” teriak Rumi histeris. Yang dibayangkannya menjadi kenyataan. Sebuah foto Rumi dan anak perempuan tergantung di kamar mandi.

Ceritanya dua minggu yang lalu, Rumi dan sahabatnya, Sinta berlatih menyanyi. Mereka akan mengikuti lomba menyanyi di sekolah. Saat latihan, Rumi dan Sinta sempat berfoto bersama memakai kostum yang akan dipakai lomba menyanyi.  

Hari yang ditunggupun tiba. Rumi sudah siap di belakang panggung lomba siap dengan kostumnya. Rumi sudah menunggu Sinta selama satu jam. Beberapa menit lagi giliran mereka dipanggil. Tapi tiba-tiba, Rumi ditelepon mama.

Mama: Rumi, Kamu harus segera ke rumah sakit Medika! Mama sama kak Rama sudah ada disini!
Rumi: Emang kenapa, Ma? Siapa yang sakit?
Mama: Sinta! Sinta yang sakit!
Rumi: Sinta sakit apa? Emangnya penyakitnya parah sampai masuk rumah sakit?
Mama: Sinta kena penyakit kanker darah stadium dua B!
Rumi: iya, iya. Aku kesana, deh.

Sambil menggerutu, Rumi berjalan mencari taksi untuk ke rumah sakit Medika.  Selama berada di taksi, Rumi sibuk berpikir.
Kenapa, sih? Mama malah mengkhawatirkan Sinta? Emang, anak mama itu siapa? Rumi atau Sinta? Emangnya, mama itu mamanya Sinta? Gara-gara Sinta, aku jadi enggak bisa ikut lomba menyanyi. Aku udah kerja keras latihan. Tapi, latihanku malah jadi sia-sia!

Setelah sampai di rumah sakit Medika, Rumi mencari mama. Akhirnya, Rumi bisa menemukan mama dan kak Rama di depan kamar 2-B.
“Ayo, kamu mau melihat Sinta, enggak?” tanya mama.
 “Mau, deh,” ujar Rumi. Rumi masuk ke kamar. Terlihat, Sinta berbaring di atas tempat tidur yang berwarna hijau.
“Maaf, ya, Rumi. Gara-gara aku, kamu malah jadi gak bisa ikut lomba menyanyi,” sesal Sinta.
“Iya. Emang gara-gara kamu, aku jadi gak bisa ikut lomba. Latihanku jadi sia-sia. Tau, enggak, sih!” seru Rumi.
“Eh, enggak boleh begitu, sayang. Kasihan Sinta,” tegur mama. “Biarin!” sekilas, Rumi melihat Sinta menangis.

Lusa harinya, Rumi mendapat kabar, kalau Sinta dikabarkan meninggal dunia. Semenjak saat itu, Rumi merasa bersalah. Foto Rumi dan Sinta yang difoto, sudah dibingkai  dengan cantik. Lalu, foto itu terus mengikuti Rumi dimanapun. Bahkan, di kamar mandi sekolahnya.

*******
Rumi merasa merinding. Jangan-jangan, Sinta menghantuinya. Rumi keluar kamar mandi sambil menangis.
“Lho, kenapa menangis, Rumi?” tanya kak Rama yang libur sekolah sebulan. Rumi tak menjawab. Ia terus menangis sambil berjalan menuju kamarnya.

Rumi menutup pintu dan dan menguncinya. Ia merasa bersalah. Sangaaaaat merasa bersalah. Rumi terkejut. Foto itu ada di kamarnya. Tercium bau lavender yang sangat khas. Sinta suka memakai parfum beraroma lavender. Rumi tak tahan lagi. Ia menjerit sekuatnya. “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!”

Kak Rama tergopoh-gopoh datang ke kamar Rumi. Namun, pintu dikunci. Kak Rama bingung. Ia mengintip melalui jendela. Terlihat, Rumi tak sadarkan diri. Tiba-tiba, dari kepala kak Rama muncul sebuah ide. Kak Rama mengambil galah yang biasanya untuk memetik mangga, lalu, berusaha mengambil kunci di meja dekat jendela. Setelah mendapat kunci itu, kak Rama masuk ke dalam dan membuka pintu. Kak Rama membawa Rumi ke rumah sakit terdekat.

*******
Kak Rama duduk di kursi depan kamar Rumi di periksa. Jantung kak Rama berdebar-debar. Tiba-tiba, terbesit rasa bersalah di hatinya. Lima menit berlalu, dokter yang memeriksa Rumi keluar.
“Bagaimana keadaan adik saya, Dok?” tanya kak Rama langsung berdiri.
“Pasien Rumi mengalami syok karena terkejut. Saya tak tahu apa yang dikejutkannya. Tapi, saya mohon, Rumi jangan mengalami apa yang membuatnya terkejut,” jelas pak dokter. 
Kak Rama mengangguk. “Baik, Dok.”
Kak Rama mengantar Rumi ke taksi setelah mendapat izin pulang dengan pak dokter. Rumi disuruh kak Rama istirahat.

*******
Keesokan harinya, semua misteri terbongkar. Ternyata, kak Rama yang menaruh foto itu dimana-mana.
“Aku melihat, Rumi kesal saat keluar dari kamar tempat Sinta dirawat. Aku ingat, foto Rumi dan Sinta yang difoto hari sebelum lomba. Beruntung, aku libur sebulan. Sepanjang hari, aku mengikuti Rumi sampai ke sekolahnya dan menggantungkan dimana tempat yang akan dia tuju. Untuk menggantungkan di kelasnya, aku minta teman-teman Rumi yang mau membantuku. Aku ingin, Rumi menyadari kesalahannya. Saat di kamarnya, aku menyemprot parfum lavender yang mereknya sama seperti yang dipakai Sinta, aku menyemprot ke seluruh kamar Rumi. Sejak Rumi syok, aku tidak akan melakukan ini lagi,” jelas kak Rama panjang lebar.
Setelah saat itu, Rumi berjanji, akan mengubah sikapnya. Terdengar, suara tawa gembira Sinta….Lo, Sinta?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar