“Hem … kenyangnya …” kata
Halimah masuk ke kamar lagi. “Haira, kita main, yuk!”
“Heee?! Kemana Hairaaa?!” teriaknya. Haira hilang
tanpa jejak! Betul-betul hilang! Bagaimana ini? Apa Halimah mesti menelepon
Humaira? Tapi, ia tak punya nomor Humaira meski bersahabat selama empat tahun!
“Haira? Haira?” Halimah mencari di bawah
kasur, bawah meja, di dalam lemari, di balkon, di balik tirai jendela, dan
tempat-tempat lain. Haira tidak ditemukan!
Halimah terduduk lemas di bawah lantai. Kalau Humaira
tiba-tiba meneleponnya? Humaira punya ponsel sendiri, dan punya nomor ibu. Apa yang harus di katakannya saat Humaira
bertanya? Ia tidak mungkin berbohong pada temannya sendiri.
Ia terus mencari dari kemarin. Hasilnya nihil.
Haira tidak ditemukan. Bagaimana ini? Halimah betul-betul cemas!
Kriiiing! Kriiing! “Halimah, ada telepon
untukmu!” panggil ibu. apakah itu Humaira? Apakah yang kemarin firasat, bukan
dugaan?
“Ya, halo?” sapa Halimah gugup. Tangannya menggenggam
ponsel dengan tangan berkeringat.
“Halo. Kok suaranya gugup begitu, sih? Ini aku,
Humaira. Kamu pasti Halimah, ya, kan?” kata suara di seberang sana. Ya ampun! Halimah
terkejut setengah mati!
“I… iya. Ha … hai, Humaira. Apa kabar?” suara
Halimah makin gugup. Terdengar suara Humaira mendengus.
“Kamu jangan gugup begitu, dong! Kamu kesal,
ya?” tanya Humaira.
Bukan begitu! “E … enggak. Cum … Cuma, kaget
saja, dengar kamu,” jawab Halimah.
“Eh, iya. Aku menemukan nomor ibumu. Jadi langsung
kutelepon saja. Disini ada Haima, juga teman-temanku. Ada Nami, Hafidzah, Putri
dan Hana. Haira masih kamu jaga dengan baik, kan? Kamu sedang apa? Aku di
temani teman-temanku untuk mengirim surat ke kamu. Kamu enggak kirim surat ke
aku?” celoteh Humaira panjang lebar. Betul, dugaan Halimah! Humaira dengan
cepat menemukan teman!
“Ha … Haira masih kuj … aku sedang duduk. A … aku nanti kirim surat ke kamu,” jawab Halimah sangat, sangat gugup.
“Ha … Haira masih kuj … aku sedang duduk. A … aku nanti kirim surat ke kamu,” jawab Halimah sangat, sangat gugup.
“Oke. Sudah dulu, ya. Aku mau pulang. Assalamualaikum!”
“Waalaikum salam.”
Gawat! Untung, tadi Halimah belum sempat
berbohong kepada Humaira. Bagaimana ini?
Untuk cerita ini memang lebih pendek dari yang Bear Doll sebelumnya. Maaf,
ya, cerita Bear Doll akan di sambun dalam jangka panjang. Penulis sedang tidak ada
ide untuk cerita Bear Doll 3. Oke, Sampai jumpa kembali!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar