Halimah anak yang terpendam, dia
tidak punya teman kecuali benda itu. Dulu, Halimah punya teman, namanya Humaira.
Humaira anak yang baik. Sayangnya, Humaira harus pergi ke Tangerang, karena
keluarganya akan pindah. Halimah menjadi anak yang tidak mempunyai teman,
karena ia hanya berteman dengan Humaira, tanpa yang lain.
Sebenarnya tidak. Halimah juga mempunyai
teman, tapi dia benda mati. Sebuah boneka beruang kecil, berwarna biru dan
berkalung emas. Boneka itu berbau Humaira, yang selalu membuat Halimah tidak
kesepian. Walaupun ia tahu, biasanya boneka suka hidup tengah malam, atau
apalah yang menyeramkan tentang boneka. Tapi hanya itu kenangan dari Humaira.
“Haira, Humaira di Tangerang punya teman,
tidak, ya? Kalau menurutku, pasti dia punya teman. Humaira itu anak yang sangat
mudah bergaul. Aku iri dengan Humaira,” celoteh Halimah menatap Haira, boneka
pemberian Humaira. Namun, Haira tetap tidak mejawab.
“Oke. Bagaimana kalau aku mengirim surat ke Humaira? Aku tahu alamat
rumahnya,” kata Halimah, masih berbicara kepada Haira yang tidak bisa menjawab.
Halimah membawa Haira ke meja belajarnya. Ia
membuka laci meja, lalu mengambil spidol warna-warni dan kertas berwarna kuning
berbau bunga, yang pernah ia beli bersama Humaira. “Kurasa ia akan senang
mendapat surat dari kertas ini. Ya, kan, Haira?”
Halimah menghela napas. Lalu menulis
beberapa Paragraf untuk Humaira. Ini isinya:
Assalamualaikum, Humaira.
Kamu masih ingat aku? Aku Halimah, temanmu
dulu. Haira masih kujaga baik. Kamu senang dapat surat dengan kertas ini? Kertas
berbau bunga yang pernah kubeli bersamamu. Oh, ya, apa kabar? Kabarku baik-baik
saja. Bagaimana kabar adikmu, Ahmad? Kuharap masih lincah seperti dulu, ya.
Sudah berapa tahun, ya, kita berpisah? Kurasa empat
tahun, kita bersahabat dari umur 6 tahun, kan? Oh, ya, aku punya usul, mau
tidak, aku belikan gelang dengan kepala beruang, yang mengenang Haira dan Haima?
Aku sampai lupa, betul-betul lupa menanyakan Haima. Ok, empat kali enam belas,
sempat tak sempat, tolong dibalas.
Halimah Auliya Putri.
Seperti itu isinya. Dia akan
menggunakan uang tabungannya untuk mengirim surat dan membeli gelang. Oh, iya,
Humaira juga punya boneka beruang, berwarna oranye, namanya Haima. Karena boneka
itu pemberian Humaira, ia juga harus memberikan sesuatu kepada Humaira.
Halimah menatap Haira. Haira tidak punya
mulut, tapi manis sekali. Entah kenapa, Halimah mulai bosan dengan Haira. “Tidak
boleh! Aku tidak boleh bosan dengan Haira! Dia temanku!” seru Halimah. Lalu menaruh
Haira di kasur, karena ibu sudah menyiapkan ayam goreng dan sayur lodeh
kesukaannya untuk makan siang.
Bagaimana
kelanjutannya? Apa yang terjadi dengan Haira? Bagaimana reaksi Halimah saat
Haira tertimpa sesuatu? Nantikan di Bear Doll ke-2, ya! ^^

Kereeeen Miss (y)
BalasHapusKereeeen Miss (y)
BalasHapus